Menghafal Bacaan Shalat Bersama Delisa
Judul Buku : Hafalan Shalat Delisa
Penulis : Tere Liye
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Genre : Drama, Inspiratif
Penerbit : Jakarta: REPUBLIKA
Tanggal terbit : November 2005
Halaman : VI, 266 halaman
ISBN : ISBN 978979321060 - 5

Sinopsis
Penulis : Tere Liye
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Genre : Drama, Inspiratif
Penerbit : Jakarta: REPUBLIKA
Tanggal terbit : November 2005
Halaman : VI, 266 halaman
ISBN : ISBN 978979321060 - 5

Sinopsis
Delisa adalah seorang bocah lucu nan imut berumur enam tahun. Ia tinggal bersama Umi dan tiga saudara perempuannya, Cut Fatimah, Cut Aisyah, dan Cut Zahra. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Abi mereka bekerja di perusahaan tambang asing, maka dari itu Abi jarang sekali pulang ke Lhok Nga, Aceh.
Delisa duduk di sekolah dasar, ia tidak seperti perempuan-perempuan pada umumnya, ia lebih senang menghabiskan waktu bermainnya untuk bermain bola bersama teman laki-laki nya daripada bermain ayunan ataupun masak-masakan dengan teman perempuannya. Biarpun begitu, Delisa tetaplah seorang anak perempuan yang sangat lucu dan imut, ia tidak terlihat seperti kakak-kakak nya, ia lebih terlihat seperti campuran dari nenek dan kakeknya.
Setiap sepulang sekolah, ia harus datang ke meunasah untuk belajar mengaji dengan Ustadz Rahman. Di rumahnya pun, Delisa diajarkan Umi cara mengaji dan cara shalat yang benar. Ibu Nur, guru di sekolah Delisa, memberikan tugas kepada seluruh muridnya untuk menghafalkan bacaan-bacaan shalat, dan nanti di hari yang sudah ditentukan, yaitu 26 Desember 2004, setiap murid harus menyetorkan bacaannya satu per satu agar bias lulus. Tugas yang sama seperti yang pernah dulu diberikan kepada kakak-kakak Delisa. Umi tentu memberikan motivasi kepada Delisa, seperti beliau memberikan motivasi kepada kakak-kakak nya dulu, yaitu dengan membelikan kalung emas dan memberikannya nanti ketika Delisa lulus bacaan shalatnya.
Setiap sore hari Delisa selalu membawa buku bacaan shalatnya, tapi ia selalu menemukan kesulitan dalam menghafal bacaan shalatnya. Seperti bacaan ruku’ dan sujud yang selalu terbalik-balik. Tetapi ia tidak menyerah, ia menginginkan kalung emas itu, ia selalu berusaha agar hafal bacaan shalat. Ia meminta bantuan kakak-kakak nya untuk menghafal bacaan. Cut Aisyah memberikan buku tulisannya sendiri berjudul “Jembatan Keledai” kepada Delisa. Buku itu berisi cara-cara menghafal bacaan shalat. Delisa pun semakin semangat untuk menghafal bacaan shalatnya.
Pada hari Ahad, 26 Desember 2004, waktunya murid-murid menyetorkan bacaan shalat nya didepan Ibu Nur. Di hari sebelumnya Delisa sudah hafal betul bacaan shalatnya, tapi entah kenapa di pagi hari ketika shalat subuh Delisa lupa bacaan sujud. Sama sekali lupa. Tapi ia tetap yakin akan lulus. Ketika nama Delisa dipanggil, Delisa berniat ingin melakukannya dengan sangat serius, ia ingin focus dengan shalatnya. Ketika ia melakukan setorannya, tiba-tiba bumi bergetar sangat kencang. Seluruh siswa di dalam gedung berlarian keluar, Delisa begitu serius melakukan shalatnya tanpa memperhatikan sekitarnya, begitupun ibu Nur, ia memperhatikan Delisa dengan sangat serius. Umi yang berada di luar ruangan meneriakkan nama Delisa, ingin masuk dan menyelamatkan Delisa anak bungsu nya. Tapi terlambat, tiba-tiba air laut datang dengan sangat cepat, Delisa saat itu sedang ingin melakukan gerakan sujud. Tetapi sudah tertarik oleh ombak.
Delisa berbaring di rumput depan pintu besar yang didalamnya terlihat taman yang sangat indah. Ia tak bias menggerakkan kedua kaki nya untuk berdiri. Seluruh badannya kaku. Ia melihat Umi, Cut Fatimah, Cut Aisyah, dan Cut Zahra berjalan dengan pakaian yang sangat amat cantik kearah pintu itu. Delisa meneriakkan mereka tetapi mereka tidak mendengarkan. Delisa sedih. Delisa takut. Ia tak mau ditinggalkan keluarganya. Ia takut kesepian. Ia menangis. Ia terbangun karena panasnya sinar matahari. Ia terbaring di bukit Lhok Nga. Ia tersadar, sudah sekitar tiga hari ia pingsan, tubuhnya penuh air kotor. Di sebelahnya ada sahabatnya sejak kecil, Tiur. Delisa yang masih kecil melihat sahabatnya dengan kondisi seperti itu pastilah tidak kuat. Tiur meninggal dihadapannya. Delisa kembali pingsan.
Delisa kembali berada di depan pintu itu. Kali ini Tiur dan ibunya berjalan kearah pintu itu. Delisa teriak-teriak jangan tinggalkan dia. Tiur terus berjalan meninggalkan Delisa. Beberapa waktu kemudian Tiur keluar dari pintu itu dan ke arah Delisa, “Delisa, aku bertemu ayah ku! Terima kasih sudah menjadi teman baikku, tetapi sekarang aku bahagia karena bias bertemu ayahku! Kamu jaga diri ya, kamu harus selesaikan bacaan shalat mu yang belum selesai!” Lalu Tiur pergi lagi meninggalkan Delisa. Kini Delisa paham, mereka semua pergi ke syurga. Ke tempat yang indah. Mereka semua sudah meninggal.
Delisa kembali sadar. Ia merengek kesakitan, kaki kananya remuk, siku kanannya pun demikian. Ia tak bias menggerakkan kaki dan tangannya kanan nya. Ia lapar, tak ada orang lain disitu, hanya dia dan mayat Tiur. Hari sudah gelap, Delisa sangat kelaparan. Tiba-tiba di sebelah kiri nya ada lima buah apel yang sangat bersih dan segar. Tersusun rapih di sampingnya. Ia meraihnya dengan tangan kirinya dan langsung melahapnya. Sekarang Delisa haus. Langit pun mendung, hujan turun. Delisa langsung membuka mulutnya dan minum air hujan, entah ia belajar darimana, ia hanya melakuaknnya begitu saja.
Keesokan harinya, dari berbagai Negara membantu Indonesia untuk melakukan investigasi, membantu mencari korban tsunami. Delisa dan korban lainnya dibawa ke rumah sakit. Delisa terpaksa harus diamputasi kaki kanan nya, karena sudah sangat parah kondisinya. Bekas jahitan dan lebam dimana-mana tak membuat Delisa patah semangat. Akhirnya Delisa bias menerima semua kenyataan ini. Ia hidup bersama dengan korban dari tsunami lainnya. Mereka yang kehilangan keluarga nya, kehilangan sahabat-sahabatnya juga seperti Delisa. Abi datang. Abi bertemu Delisa. Delisa sangat senang saat itu. Ia menangis dengan sangat kencang. Abi nya pun kaget saat melihat Delisa, ia tak menyangka anak bungsu nya dapat menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini, apalagi Delisa masih sangat kecil.
Delisa masih ingin menghafalkan bacaan shalatnya, tetapi sekarang terasa sangat sulit. Ia lupa dengan bacaannya, lupa segalanya, lupa dengan cara-cara yang diberikan Kak Aisyah. Karena kalung emas yang bertuliskan “D” untuk Delisa sudah tak ada. Ia kehilangan motivasi nya. Tapi pada akhirnya ia dapat melupakan semua itu. Hadiah-hadia yang dijanjikan Umi nya jika Delisa berhasil menghafal bacaan shalatnya. Delisa kini hanya ingin menghafal karena Allah.
Di akhir novel ini, Delisa berhasil menghafal bacaan shalatnya. Malam sebelumnya, ia bermimpi bertemu Umi. Umi memegang kalung emas bertuliskan “D” untuk Delisa. Ia mengingatkan akan hafalan Delisa. Delisa akhirnya bias hafal dengan sempurna. Ia bias melaksanakan shalat Ashar nya dengan sangat sempurna untuk pertama kalinya. Tanpa patah-patah, tanpa terbolak balik bacaannya. Ia bias tanpa hadiah cokelat, tanpa hadiah kalung dari Umi.
Lalu suatu ketika, Delisa sedang mencuci tangan di tepian sungai, air yang di tangannya memantulkan cahaya. Ia melihat cahaya yang kemilau dari kejauhan. Ia mendekati, dan sangat terkejut melihatnya. Itu adalah kalung emas bertuliskan “D” untuk Delisa berada di genggaman tangan manusia yang sudah tinggal tulang. Tak lain itu adalah Umi Delisa.
Kelemahan
Mungkin untuk pembaca non-muslim akan sedikit sulit membacanya, karena terdapat bacaan shalat yang tidak dimengerti. Juga di novel ini tidak terdapat daftar isi, jadi menyulitkan pembaca untuk mencari bagian buku yang dicari. Kata pengantar pun tidak ada di novel ini.
Kelebihan
Banyak sekali kelebihan dari novel ini. Menggunakan Bahasa yang sangat mudah di mengerti seluruh kalangan. Tetapi juga menyentuh. Ditambah sedikit bumbu humor di beberapa bagian. Menggambarkan sesuatu dengan sangat detail jadi pembaca dapat berimajinasi dengan sangat baik dan bias mengikuti alur ceritanya dengan sempurna.
Kesimpulan
Terdapat banyak sekali nilai-nilai yang bias saya ambil dari membaca novel ini. Nilai agama, nilai sosial, dan banyak nilai lainnya. Seperti, saya harus ikhlas dalam berbuat sesuatu, dlam melakukan sesuatu. Tanpa harus meminta suatu imbalan. Saya harus selalu ingat kepada Allah SWT. karena Allah selalu melihat kita, kapanpu, dimanapun. Saya juga harus menyayangin kedua orang tua saya, sebagaimana mereka menyayangi saya. Dan saya harus yakin pada diri sendiri, juga pasti setiap permasalahan ada solusi nya.
Saran
Beberapa saran dari saya untuk Tere Liye adalah, berikan kata pengantar dan daftar isi di novel. Karena itu akan membantu pembaca. Juga adakan sedikit sinopsis dibelakang buku, untuk pembaca yang belum tahu buku ini tentang apa bias membacanya sedikit.
Bagikan
Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa
4/
5
Oleh
ihza
